RSS

Tumbuhan Paku

25 Jun

Paku Kelor ( Adiantum cuneatum)

A.Gambar

                                                            Hasil pengamatan

B. Lokasi

Paku Suplir (Adiantum cuneatum) banyak di temukan di dekat sumber mata air,tepatnya pada daerah Coban Rais. Pada hari minggu, 18 maret 2012.

C. Sistematika

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Pteridophyta (paku-pakuan)
Kelas: Filicopsida
Sub Kelas: Polypoditae
Ordo: Polypodiales
Famili: Pteridaceae
Genus: Adiantum
Spesies: Adiantum cuneatum Langs.& Fisch

(Tjitrosoepomo., 2000)

D. Deskripsi

Suplir adalah sebutan awam bagi segolongan tumbuhan yang termasuk dalam genus Adiantum, famili Adiantaceae. Sebagai tumbuhan paku-pakuan, suplir tidak menghasilkan bunga dalam daur hidupnya. Perbanyakan generatif suplir dilakukan dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun bagian tepi tanaman yang sudah dewasa.Suplir memiliki penampilan yang jelas berbeda dari jenis paku-pakuan lain. Daunnya tidak berbentuk memanjang, tetapi cenderung membulat. Sorus merupakan kluster-kluster di sisi bawah daun pada bagian tepi. Spora terlindungi oleh sporangium yang dilindungi oleh indusium. Tangkai entalnya khas, berwarna hitam mengkilap, kadang-kadang bersisik halus ketika dewasa. Sebagaimana paku-pakuan lain, daun tumbuh dari rizoma dalam bentuk melingkar ke dalam (bahasa Jawa mlungker) seperti tangkai biola (disebut circinate vernation) dan perlahan-lahan membuka. Akarnya serabut dan tumbuh dari rizoma.Tanaman ini tidak memliliki nilai ekonomi penting. Fungsinya yang utama adalah sebagai tanaman hias yang bisa ditanam di dalam ruang atau di luar ruang. Suplir sangat suka tanah yang gembur, kaya bahan organik (humus). Pemupukan dengan kadar nitrogen lebih tinggi disukainya. Pembentukan spora memerlukan tambahan fosfor dan kalium(Tampubolon,1967)

Tumbuhan suplir merupakan tumbuh-tumbuhan yang berkembang biak dengan spora,berikut morfologi dari tanaman tersebut (Tjitrosoepomo., 2000)

  • Tumbuhan Suplir dimasukkan dalam golongan tumbuhan paku-pakuan (Pteridophyta)
  • Tumbuhan ini masuk kedalam kelaompok Pterudophyta karena sudah dapat dibedakan antara batang, daun, dan akar.
  • Pada umumnya hidup di atas tanah dengan cara bergerombol dan mempunyai akar serabut yang ujung akarnya dilindungi kaliptra.
  • Kebanyakan hidup di tempat-tempat yang terlindung (sahdefern).
  • Paku tanah atau suplir telah memiliki organ tubuh yang sesungguhnya seperti akar, batang dan daun.

DAUN

Daun pada tumbuhan paku suplir beraneka ragam.

  • Berdasarkan fungsi daun pada tumbuhan paku suplir ini ada dua macam jenis daun
  1. Daun tropophyl (daun untuk fotosintesis saja / Daun steril )
  2. Daun sporophyl (daun penghasil spora/ daun fertil ).
  • Berdasarkan ukurannya tumbuhan paku suplir ada dua macam jenis daun
  1. Daun Makrophyl
  2. Daun Mikrophyl

Daun Makrophyl

  • Ukurannya lebih besar
  • Menyirip ganda sampai beberapa kali dengan urat-urat yang bebas, rapat, dan pendek
  • Daun yang makrofil (berdaun besar) dengan posisi yang berseling-seling serta daun yang menyerupai kipas.
  • Bentuk daunnya bulat telur (membulat), persegi panjang, delta, jajar genjang, dan belah ketupat.
  • Susunan daun tumpang tindih ,bersirip tunggal, bersirip ganda, ada juga susunan daunnya pada bagian bawah besar sedang pada bagian ujungnya mengecil sehingga mirip ekor.
  • Tekstur daun biasanya lembut dan tipis, tetapi ada juga yang keras dan kaku, dan umumnya berwarna hijau mengkilap.
  • Pada bagian daun terdapat tulang daun dan telah mempunyai mesofil (daging daun).
  • Tangkai daun gundul sekitar 10-20 cm.
  • Anak daun penempatannya bersaing sepanjang poros sirip.
  • Daun memiliki mesofil (daging buah), jaringan bunga karang, jaringan tiang dan jaringan daun.

AKAR

  • Akar dari tumbuhan ini merupakan rimpang tegak, yang akar sejatinya semakin menaik atau memanjat.
  • Akar berupa rhizome beruas pendek yang muncul akar-akar berupa serabut.
  • Pada ujung akar dilindungi oleh kaliptra atau tudung akar.
  • Di belakang kaliptra terdapat titik tumbuh berupa sebuah sel yang berbentuk bidang empat, yang kearah luar membentuk sel-sel kaliptra, sedangkan jika menuju kearah dalam membentuk sel-sel akar.

BATANG

  • Batang tanaman suplir hitam mengkilat berduri tegak atau semi tegak dan dijumpai sisik-sisik yang lunak atau keras.
  • Batang bercabang-cabang dan berupa tongkat (rhizome) yang terdapat banyak daun dengan tingginya sekitar 0,25-1,3 m.
  • Susunan anatomi batang terdiri dari epidermis, korteks dan stele. Pada ujung batang terdapat jaringan meristematik yang membentuk akar dan batang.

STRUKTUR BATANG

Dalam penampang melintang batang tampak bagian-bagian:

  1. Epidermis : terdapat jaringan penguat.
  2. Korteks : banyak mengandung ruang antar sel.
  3. Silinder pusat : terdiri atas xylem dan floem yang membentuk berkas pengangkut yang konsentris.

SPORA

  • Spora terbentuk di dalam kotak spora atau sporangium sebagai alat reproduksinya yang terkumpul dalam sorus.
  • Sorus yang bentuknya bermacam-macam dan dilindungi selaput yang disebut insidium yang terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah dan mempunyai annulus sebagai mekanisme pengeluaran spora.
  • Sorus yang masih muda terlindung oleh selaput indusium.
  • Paku suplir mempunyai sorus bangun ginjal, jorong atau bangun garis, terletak pada tepi daun yang terlipat ke bawah berfungsi sebagai indisium.

METAGENESIS

  • Siklus hidup tanaman suplir dimulai dari tanaman yang sudah dewasa yaitu ditandai dengan jatuhnya spora yang telah matang atau melompat ke luar dari kotak spora.
  • Apabila spora tersebut jatuh di tempat yang cocok (tanah yang subur), maka spora itu akan tumbuh menjadi suatu badan/lembaran hijau yang disebut prothallium (prothallus).
  • Prothallus ini biasanya berklorofil, sehingga bisa berasimilasi.
  • Sedang untuk mengambil makanannya dari dalam tanah prothallus ini akan menggunakan rhizoidnya.
  • Pada prothallus ini akan terbentuk gametangium yakni berupa antheridia yang menghasilkan spermatozoid dan archogenium menghasilkan sel telur.
  • Selanjutnya dengan perantaraan medium air yang ada disekitar prothallus, spermatozoid akan bergerak menuju archogonium.
  • Pertemuan dua sel kelamin ini akan menghasilkan zigot.
  • Kemudian zigot ini akan terus berkembang membelah diri dan akhirnya terbentuklah sporophit muda.
  • Sporophit muda inilah yang akan tumbuh terus menjadi tumbuhan paku yang kemudian akan menghasilkan spora kembali.

Karakteristik tumbuhan paku sebagai berikut (Tjitrosoepomo,2000):

  • Tumbuhan paku (atau paku-pakuan, Pteridophyta atau Filicophyta),
  • Tumbuhan paku adalah satu divisio tumbuhan yang telah memiliki sistem pembuluh sejati (kormus) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya.
  • Kelompok tumbuhan ini masih menggunakan spora sebagai alat perbanyakangeneratifnya, sama seperti lumut dan fungi.
  • Tumbuhan paku (Pteridophyta) adalah divisi dari kingdom Plantae yang anggotanya memiliki akar, batang, dan daun sejati, serta memiliki pembuluh pengangkut.
  • Tumbuhan paku sering disebut juga dengan kormofita berspora karena berkaitan dengan adanya akar, batang, daun sejati, serta bereproduksi aseksual dengan spora.
  • Tumbuhan paku yang mudah kita lihat merupakan bentuk fase sporofit.karena menghasilkan spora
  • Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut yaitu xilem dan floem.
  • Xilem adalah pembuluh pengangkut senyawa anorganik berupa air dan mineral dari akar ke seluruh bagian tumbuhan.
  • Floem adalah pembuluh pengangkut nutrien organik hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tubuh tumbuhan.
  • Jadi Tumbuhan paku juga disebut sebagai tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta) karena memiliki pembuluh pengangkut.
  • Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun).
  • Total spesies yang diketahui hampir 10.000 (diperkirakan 3000 di antaranya tumbuh di Indonesia), sebagian besar tumbuh di daerah tropika basah yang lembab.
  • Tumbuhan ini cenderung tidak tahan dengan kondisi air yang terbatas, mungkin mengikuti perilaku moyangnya di zaman Karbon, yang juga dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku karena merajai hutan-hutan di bumi.
  • Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil sekarang ditambang orang sebagai batubara.
  • Salah satu anggota dari Pteridophyta ialah
  1. Classis Lycopodiinae ( paku kawat atau paku rambat ). Merupakan tumbuhan liar di pinggir-pinggir jalan, semak belukar atau di hutan-hutan,sering memanjat di pohon. Tumbuh dari dataran rendah sampai pegunungan dari ketinggian 100 m sampai 2.000 m di atas permukaan
  2. Classis : Filicinae yang kita bahas ini OK

E .   Manfaat apa yang bisa diambil dari tanaman paku

Sebagai tanaman hiasan :

  • Platycerium nidus (paku tanduk rusa)
  • Asplenium nidus (paku sarang burung)
  • Adiantum cuneatum (suplir)
  • Selaginella wildenowii (paku rane)

Sebagai bahan penghasil obat-obatan :

  • Asipidium filix-mas
  • Lycopodium clavatum

Sebagai sayuran :

  • Marsilea crenata (semanggi)
  • Salvinia natans (paku sampan = kiambang)

Sebagai pupuk hijau :

  • Azolla pinnata bersimbiosis dengan anabaena azollae (gangang biru)

Sebagai pelindungan tanaman di persemaian :

  • Gleichenia linearis

Sebagai sumber bahan baku pembentukan batu bara :

  • Tumbuhan paku yang sudah mati pada zaman purba.

Selaginella plana

A. Gambar

B . Sistematika
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi: Lycopodiophyta
Kelas: Lycopodiopsida
Ordo: Selaginellales
Famili: Selaginellaceae
Genus: Selaginella
Spesies: Selaginella plana Hieron

(Tjitrosoepomo., 2000)

C .DESKRIPSI MORFOLOGI ORGAN

Di tempat yang teduh biasanya daunnya menjadi kebiruan sehingga menambah indahnya tumbuhan ini. Perawakan maupun bentuknya serupa rane halus (Selaginella willdenowii). Hanya saja ukuran daun lebih lebar. Daunnya kecil-kecil dan tersusun melingkari batangnya. Berbeda dengan rane halus  (Selaginella willdenowii) daun-daun suburnya lebih lancip. Susunannya pun lebih rapat. Batangnya terletak di permukaan tanah dan kadang-kadang berakar membentuk tanaman baru. Di daerah yang cocok tumbuhan ini mencapai panjang 1 m  (Listyorini, 1980).

Di antara tumbuhan rasam yang tidak lebat di lereng-lereng bukit di Jawa Barat, sering dijumpai jenis paku lain yang disebut rane biru. Tumbuhan ini hanya terdapat di daerah yang lembap dan teduh. Selain sebagai tanaman hias, rane biru ini telah lama dikenal sebagai obat penasak darah dan obat ulu hati (Listyorini, 1980).

a.       Akar

Terdapat rizofora (pendukung akar) yang terletak di dekat percabangan batang. Rizofora berbentuk seperti batang, tidak berdaun , dan tidak berwarna. Rizofora tumbuh ke bawah menuju  tanah dan pada ujungnya tumbuh akar (Dasuki, 1991).

b.      Batang

Habitus bangsa Selaginellales  ini hampir bersamaan dengan Lycopodiinae. Sebagian mempunyai batang berbaring dan sebagian berdiri tegak, bercabang-cabang menggarpu anisotom, tidak memperlihatkan pertumbuhan menebal sekunder. Ada yang tumbuhnya membentuk rumpun, ada yang memanjat dan tunasnya dapat mencapai panjang sampai beberapa meter (Tjitrosoepomo, 1994).

Selaginella memiliki batang merayap (prostrate) dan menjalar yang bercabang-cabang pada jarak pendek. Percabangannnya monopodial (yaitu titik tumbuh yang sama secara tetap merupakan titik tumbuh utama) walaupun dekat titik tumbuh itu tampaknya dikotomi. Batang memiliki banyak daun kecil-kecil yang dipisahkan oleh ruas yang jelas pada bagian yang lebih tua, tetapi berkelompok pada ujung pertumbuhan (Loveless, 1989).

c.       Daun

Pada batang terdapat daun-daun kecil yang tersusun dalam garis spiral atau berhadapan dan tersusun dalam 4 baris. Cabang-cabang seringkali mempunyai susunan dorsoventral. Dari 4 baris daun itu yang dua baris terdiri atas daun-daun yang lebih besar dan tersusun ke samping, yang dua baris lagi terdiri atas daun-daun yang lebih kecil terdapat pada sisi atas cabang-cabang dan menghadap ke muka. Daun-daun itu hanya mempunyai tulang tengah yang tidak bercabang dan jarang-jarang memperlihatkan diferensiasi dalam jaringan tiang dan jaringan bunga karang (Tjitrosoepomo, 1994).

Pada bagian bawah sisi atas daun terdapat suatu sisik yang dinamakan lidah-lidah (ligula). Lidah-lidah ini merupakan alat penghisap air (misal tetes air hujan), dan seringkali dengan pperantaraan suatu trakeida mempunyai hubungan dengan batas-batas pembuluh pengangkutan (Tjitrosoepomo, 1994).

3.      SISTEM REPRODUKSI

Selaginella plana adalah tumbuhan paku heterospor. Tumbuhan jenis ini menghasilkan mikrospora, yang dibentuk oleh mikrosporangium, dan megaspore dibentuk di dalam megasporangium. Kedua jenis sporangium tersebut terdapat pada sporofil yang berbeda, yaitu mikrosporofil dan megasporofil. Sporangium tunggal, terletak pada ketiak sporofil, yaitu diantara suatu sumbu dengan ligula. Umumnya kedua jenis sporofil tersebut bersama-sama tersusun pada sebuah strobilus (strobilus sporangiat). Spora berkembang secara endosporik, yaitu gametofit berkembang dibatasi oleh dinding spora (Koning, 1994).

Reproduksi seksual dari paku lumut dan pinus tanah diikuti oleh produksi dari sporangia. Tetapi paku lumut sporangia berkembang menjadi mikrosporofil dan makrosporofil  menghasilkan mikrosporangia yang berisi beberapa mikrosporofit yang menjalani  meiosis , memproduksi  mikrospora yang tipis. Megasporangia dari megasporofil  biasanya  berisi megasporofit yang sesudah meiosis terbagi menjadi empat megaspore besar (Mader, 2001).

Masing-masing mikrospora dapat menjadi gametofit jantan terdiri dari anteridium bulat dikelilingi selubung steril (antheredium) dari sel tanpa dinding mikrospora. Masing-masing sel sperma dengan flagella diproduksi dalam masing-masing  antheredium. Megaspora yang besar berkembang menjadi gametofit betina yang juga strukturnya sederhana. Selanjutnya gametofit sempurna dan  matang,   meskipun itu terdiri dari banyak sel yang telah diproduksi  di dalam mega spora . Dengan meningkatnya ukuran,  akhirnya pecah dan menebalkan dinding spora dan memproduksi beberapa arkegonia dalam kantong tertutup . Perkembangan dari keduanya,  gemetofit jantan dan betina sering dimulai sebelum spora muncul dari kotak sporangia. Fertilisasi dan perkembangan sporofit baru adalah sama pada pinus tanah lainnya (Mader, 2001).

4.      SIKLUS HIDUP

Yang pertama inti spora membelah secara bebas menjadi banyak, yang lalu tersebar dalam plasma pada bagian atas spora.  Baru kemudian mulai terbentuk dinding – dinding sel  yang meluas kebawah, sehingga akhirnya seluruh spora terisi dengan sel sel protalium. Bersamaan dengan itu sel- sel membelah-belah terus menjadi sel sel kecil, dan pada bagian atas protalium mulai  terbentuk beberapa arkegonium. Akhirnya dinding makrospora pecah, dan protalium yang terdiri dari sel-sel kecil dan tidak berwarna tersembur keluar,dan membentuk 3 rizoid pada 3 tempat (Tjitrosoepomo, 1994).

Setelah satu atau beberapa  arkegonium dibuahi, mulailah perkembangan embrionya yang biasanya bersifat  endoskopik. Untuk membebaskan diri dari protalium, Embrio yang endoskopik membelok seperti pada Lycoodium. Calon akar baru di bentuk kemudian. Pertumbuhan memanjang berlangsung dengan perantaraan suatu sel ujung sebagai sel pemulanya (Tjitrosoepomo, 1994).

Sporofit yang sudah matang akan menghasilkan sporangium dengan pembelahan meiosis sporangium ini menghasilkan spora kemudian spora ini berkembang dan terus berkembang menjadi gametofit muda dan gametofit ini menghasilkan antheridium dan arkegonium, pada arkegonium menghasilkan sel telur (egg), dan pada antheridium menghasilkan sperma kemudian sperma dan sel telur ini mengalami fertizasi yang dari fertlizasi ini menghasilkan zigot. Zigot mengalami pembelahan mitosis dan menghasilkan spora baru yang terdapat pada daun dan gamtofit pada akar  (Koning, 1994).

Mikrospora berkembang menjadi mikrogametofit dengan membentuk Sembilan buah sel steril yang kemudian rusak, dan banyak spermatozoid yang biflagel. Megaspora berkembang menjadi megagametofit diawali dengan pembelahan inti bebas. Pemeblahan inti bebas adalah suatu peristiwa pembelahan yang dimulai dengan perbanyakan inti, baru kemudian diikuti dengan pembentukan dinding sel. Megagametofit dapat dibedakan menjadi daerah nutritif dan daerah gametofit. Pada daerah generative terdapat arkegonium, pada daerah ini terdapat rizoid. Arkegonium mempunyai sel saluran leher, sel saluran perut, dan sel telur masing-masing sebuah. Pada saat arkegonium masak, sel saluran leher dan sel saluran perut rusak, membentuk lendir, menyerapa air, menekan dinding, dan menyebabkan hubungan sel leher yang paling ujung merenggang (Koning, 1994).

Menurut Setyawan AD. (2011) dalam jurnalnya menyatakan bahwa manfaat dari Genus Selaginella (Selaginellaceae) adalah :

1.      Selaginella plana adalah bahan baku obat yang potensial, yang mengandung beragam metabolit sekunder seperti alkaloid, fenolik (flavonoid), dan terpenoid.

2.      Spesies ini secara tradisional digunakan untuk menyembuhkan beberapa penyakit terutama untuk luka, nifas, dan gangguan haid. Biflavonoid, suatu bentuk dimer dari flavonoid, adalah salah satu produk alam yang paling berharga dari Selaginella, yang meliputi sekurang-kurangnya 13 senyawa, yaitu amentoflavone, 2′,8”-biapigenin, delicaflavone, ginkgetin, heveaflavone, hinokiflavone, isocryptomerin, kayaflavone, ochnaflavone, podocarpusflavone A, robustaflavone, sumaflavone, dan taiwaniaflavone.

3.      Secara ekologis, tumbuhan menggunakan biflavonoid untuk merespon kondisi lingkungan seperti pertahanan terhadap hama, penyakit, herbivora, dan kompetisi, sedangkan manusia menggunakan biflavonoid secara medis terutama untuk antioksidan, anti-inflamasi, dan anti karsinogenik.

4.      Selaginella plana juga mengandung trehalosa suatu disakarida yang telah lama dikenal untuk melindungi dari pengeringan dan memungkinkan bertahan terhadap tekanan lingkungan hidup yang keras. Senyawa ini sangat berpotensi sebagai stabilizer molekul dalam industri berbasis sumberdaya.

Selaginella wildenowii (paku rane halus)

A . Gambar

                                                                    Hasil pengamatan                                             

B. Sistematika

Kingdom:        Plantae
Subkingdom:          Tracheobionta
Divisi:                      Lycopodiophyta
Kelas:               Lycopodiopsida
Ordo:              Selaginellales
Famili:             Selaginellaceae
Genus:            Selaginella
Spesies:  Selaginella willdenowii (Desv.) Backer

(Tjitrosoepomo., 2000)

C . DESKRIPSI

Selaginella willdenowii  disebut juga rane halus. Rane halus seperti halnya jenis Selaginella lainnya termasuk jenis paku yang mempunyai daun yang berukuran kecil. Pada umumnya ental berwarna hijau tetapi pada keadaan tertentu misalnya di tempat yang teduh warna itu akan berubah menjadi kebiruan. Entalnya berbentuk bulat lonjong, kecil dan kaku, menggerombol di ujung batang sehingga tampak menutupi batangnya. Karena sifat inilah rane halus baik digunakan untuk tanaman hias sebagai penutup tanah. Batangnya tegak dan bersisik halus. Kadang-kadang mempunyai percabangan yang menyirip. Seringkali rane halus ini membentuk belukar yang cukup lebat. Daun-daun subur terangkai dalam bentuk strobili yang bentuknya seperti tabung. Daun-daun subur tersebut pendek, melebar, dan tumpul (Listyorini, 1980).

Hidupnya di tanah terutama di tempat yang basah baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi hingga ketinggian 1200 m. tumbuhan ini mulai diperkenalkan orang sebagai tanaman hias karena entalnya mempunyai warna yang mudah berubah. Rane hidup tersebar di Asia Tenggara dan dapat di lihat di kebun Raya Bogor. Di Jawa, tumbuhan ini pernah dilaporkan digunakan untuk ramuan jamu atau obat yang diminum. Daun mudanya dapat juga di makan seperti sayuran yang bertujuan untuk pengobatan. Di samping itu dapat dipakai  pula untuk obat penyakit kulit yang dicampur dengan Anethum graveolens dan Alyxia sp. Di Malaya tumbuhan inni dipaki pula sebagai obat sakit panas. Abu rane halus dapat digunakan sebagai obat gosok pada sakit punggung (Listyorini, 1980).

Memiliki 4 struktur penting, yaitu lapisan pelindung sel (jaket steril) yang terdapat disekeliling organ reproduksi. Embrio multiseluler
yang terdapat dalam arkegonium. Kutikula pada bagian luar dan yang paling penting adalah sistem transport internal yang mengangkut air dan zat makanan dari dalam tanah. Sistem transport ini sama baiknya seperti pengorganisasian transport air dan zat makanan pada tumbuhan tingkat tinggi. Struktur tubuh (Tjitrosoepomo., 2000) :

Akar
Bersifat seperti akar serabut, ujungnya dilindungi kaliptra yang terdiri atas sel – sel yang dapat dibedakan dengan sel – sel akarnya sendiri.

Batang

Pada sebagian jenis tumbuhan paku tidak tampak karena terdapat didalam tanah berupa rimbang, mungkin menjalar atau sedikit tegak. Jika muncul diatas permukaan tanah, batangnya sangat pendek sekitar 0,5 m. akan tetapi ada batang bebrapa jenis tumbuhan paku seperti paku pohon/paku tiang yang panjangnya mencapai 5 m dan kadang – kadang bercabang misalnya : Alsophilla dan cyathea.
Daun
Daun selalu melingkar dan menggulung pada usia muda. berdasarkan bentuk ukuran dan susunanya, daun paku dibedakan antara epidermis, daging daun, dan tulang daun.

a)     Makrofil
Daun ini berbentuk kecil – kecil seperti rambut atau sisik, tidak bertangkai dan tidak bertulang daun, belum memperlihatkan diferensiasi sel, dan tidak dapat dibedakan antara epidermis, daging daun dan tulang daun.

b)     Mikrofil
Merupakan daun yang bentuknya besar, bertangaki dan bertulang daun, serta bercabang – cabang. Sel – sel penyusunnya telah memperlihatkan diferensiasi, yaitu dapat dibedakan antara jaringan tiang, jaringan bunga karang, tulang daun, serta stomata (mulut daun).

Kesimpulam

    Dari pengamatan kali ini dapat di simpulkan bahwa Tumbuhan paku (Pterydhopyta) merupakan tumbuhan berkormus dan berpembuluh yang paling sederhana. Terdapat lapisan pelindung sel (jaket steril) di sekeliling organ reproduksi, sistem transpor internal, hidup di tempat yang lembap. Akar serabut berupa rizoma, ujung akar dilindungi kaliptra. Sel-sel akar membentuk epidermis, korteks, dan silinder pusat (terdapat xilem dan fleom).
Tumbuhan ini benar-benar telah berupa kormus, jadi telah jelas adanya akar, batang dan daun. Ada yang hidup sebagai saprofit dan ada pula sebagi epifit. Paku menyukai tempat lembab (higrofit), tumbuhnya mulai dari pantai (paku laut) sampai sekitar kawah-kawah (paku kawah).

Tumbuhan paku bereproduksi secara aseksual (vegetatif) Dan Reproduksi secara seksual (generatif). Tumbuhan paku dibedakan menjadi empat kelompok yaitu Psilotophyta, Lycophyta, Sphenophyta, dan Pterophyta. Pterophyta (paku sejati) umumnya tumbuh di darat pada daerah tropis dan subtropis. Daunnya besar, daun muda menggulung.
Perkembangbiakan tumbuhan paku tergolong Metagenesis. Berbeda dengan lumut, yang sehari-hari kita sebut sebagai tanaman paku adalah fase sporofit-nya. Tumbuhan paku yang ada di bumi ini mempunyai masa kejayaan dalam zaman Paileozoikum, terutama dalam zaman karbon, disebut zaman paku. Sisa-sisanya sekarang dapat digali sebagai batubara.

 

DAFTAR PUSTAKA

Allaby, Michael. 1998. “Selaginellaceae.” A Dictionary of Plant Sciences.. Encyclopedia.com. Diakses pada hari kamis tanggal 28 April 2011 pukul 5.47 WIB.

Dasuki, Undang Ahmad. 1991. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung : ITB.

Forest and Kim Starr. 2008. Plants of Hawaii, Image 080117-1776 from http://www.hear.org/starr/plants/images/image/?q=080117-1776. Diakses pada hari jumat tanggal 4 April 2012 pukul 10.48 WIB.

Halloran, D. O. 2005. http://www.ecan.govt.nz/weeds. Diakses pada hari kamis tanggal 4 April 2012 pukul 5.56 WIB.

Koning, Ross E. 1994. Selaginella. Plant Physiology Information Website.

Loveless, A. R. 1989. Prinsip-prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 2. Jakarta : Gramedia.

Mader, Sylvia. 2001. Biology. Amerika : MC Graw Hill Companies. Hal 565-567.

Nandhasri, Siri. 1979. Flora of Thailand Volume Three Part One. Bangkok: The Tistr Press.

Setyawan AD. 2011. Natural products from Genus Selaginella (Selaginellaceae). Nusantara Bioscience 3: 44-58.

Tjitrosoepomo, Gembong. 1994. Taksonomi Tumbuhan (Schizophytha, Thalophytha, Bryophytha). Bandung : UGM Press.

Mai, Nimit Rd., Samwha Tawan Ork, Klong Samwha, 2010. http://www.fernSiam.net & www.fernSiam.com. Bangkok, Thailand. Diakses pada hari kamis tanggal 4 April 2012 pukul 5.34 WIB.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 25, 2012 in KULIAHKU

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: